Pahami Moving Average Saham dan Cara Menyetingnya

Moving Average secara sederhana dapat diartikan sebagai indikator teknikal yang menampilkan rata-rata harga, entah itu harga penutupan atau harga pembukaan kemudian menghubungkan rata-rata tersebut menjadi garis.

Istilah ini juga sering disingkat dengan MA. Di dunia pasar saham, MA ini sangat penting untuk dipelajari.

Sebagai salah satu indikator teknikal, MA ini memiliki sifat yang unik, yakni trend following ‘mengikuti tren’ serta lagging ‘tertunda’. Hal ini terjadi karena Moving Average sendiri dibuat berdasar pada harga yang sudah terjadi.

Meskipun demikian, sifat lagging tersebut sebenarnya masih bisa diatasi dengan jenis MA yang lain.

Untuk belajar tuntang mengenai analisis moving average, mari simak pembahasan lengkapnya berikut ini.

Moving Average dalam Trading Saham

Pahami Moving Average Saham dan Cara Menyetingnya

Dalam trading saham, Moving Average adalah garis yang diperoleh dari penghitungan harga sebelum harga hari ini. Perhitungan tersebut berdasarkan pergerakan harga rerata dari suatu saham untuk rentang waktu tertentu.

Periode waktu dalam trik Moving Average dikenal dengan rentang 1 minggu (5 hari), 3 bulan (60 hari), dan 6 bulan (60 hari). Jadi, jika ada Moving Average 60, periode masanya berarti tiga bulan ke belakang.

Moving Average forex tidak dipakai sebagai sebuah prediksi yang pasti. Indikator ini dibagi sebagai sebuah penafsiran yang penting untuk melakukan analisis dan konfirmasi. Dalam praktiknya, indikator MA juga dibagi menjadi beberapa macam.

Jenis-Jenis Moving Average

MA adalah salah satu indikator teknikal yang sangat populer dikalangan para trader.

Ada beberapa jenis MA yang bisa dipakai sebagai alat bantu indikator analisis teknikal.

Tiga jenis MA yang paling populer adalah Simple Moving Average yang disingkat dengan SMA, Weighted Moving Average yang disingkat dengan WMA, dan juga Exponential Moving Average yang disingkat dengan EMA.

Dari ketiga jenis MA tersebut, penggunaannya kurang lebih sama. Yang membedakan ketiganya adalah pola penghitungannya. Ada suatu nilai nilai yang dianggap lebih berbobot pada periode tertentu.

Sebagai gambaran, SMA hanya memakai rata-rata biasa. Sementara itu, WMA serta EMA memakai sistem pembobotan sehingga menghasilkan nilai rataan yang berbeda pula.

Jika disimpulkan, perbedaan ketiga jenis MA yang disebutkan di atas terdapat pada tingkat sensitivitasnya. Masing-masing MA memberikan tingkat sensitivitas yang berbeda pada harga saham.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak pembahasan lengkapnya berikut ini.

1.   Simple Moving Average (SMA)

SMA merupakan aritmatika dari MA. Aritmatika ini diperoleh dari proses menambahkan harga closing aset atau saham ke sejumlah periode masa tertentu. Kemudian, dibagi lagi ke periode masa tersebut.

Data yang dimuat dalam SMA adalah bobot. Itu berarti setiap hari ada sekumpulan data yang mempunyai tingkat kepentingan yang hampir sama dengan bobot yang hampir sama pula. Pada setiap hari baru selesai, titik data tertua akan dibuang dan digantikan dengan data yang baru.

SMA secara sederhana bisa dirumuskan dengan rumus berikut ini.

Rumus Simple Moving Average (SMA)

Untuk mengaplikasikan rumus tersebut, mari kita aplikasikan pada tabel harga suatu saham berikut ini.

Aplikasi Simple Moving Average (SMA)

Tabel di atas menunjukkan nilai saham dan SMA dalam 15 hari terakhir. Dari data di atas, kita bisa membuat grafis SMA sebagai berikut.

Tabel SMA

2.   Weighted Moving Average

Jenis Moving Average yang satu ini sebenarnya hampir mirip dengan SMA. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, perbedaannya pada pembobotan data. Sama seperti ketika menghitung SMA, pada WMA, setiap harinya harga closing yang tertua akan dibuang kemudian harga yang terbaru akan ditambahkan.

Weight Moving Average mengalikan faktor tertentu untuk menghasilkan bobot yang berbeda untuk waktu yang berbeda pula. Simak rumus berikut ini.

Rumus Weighted Moving Average

Pada rumus di atas, pada sejumlah (n) hari, data WMA pada hari terbaru mempunyai berat (n), kemudian (n) pada hari terbaru kedua – 1, dan seterusnya hingga bobotnya ke-1. Mari kita simulasikan contoh di atas pada tabel berikut ini.

Tabel Weight Moving Average

Setelah mengetahui nilai WMA-nya, kita bisa membuat grafik sebagai berikut.

Weight Moving Average

3.   Eksponensial Moving Average

Jenis MA terakhir yang akan dibahas di sini adalah Exponential Moving Average atau yang juga sering disebut dengan EMA. Berbeda dengan MA, EMA mengolah data secara tak terbatas.

Data-data lama tak dibuang sama sekali. Data-data lama dikurangi bobotnya, Pengurangan tersebut dilakukan secara eksponensial, tetapi tak sampai nol.

EMA juga memiliki sedikit kemiripan jika dibandingkan dengan WMA. Persamaannya ada pada bobot data, yakni data yang terdahulu dengan data yang terbaru.

Yang mana dalam perhitungan ini, baik WMA maupun EMA, keduanya lebih sensitif terhadap pergerakan harga saham. Keduanya lebih sensitif jika dibandingkan dengan SMA.

Rumus EMA adalah sebagai berikut.

Rumus Exponential Moving Average

Mari kita aplikasikan rumus tersebut dengan simulasi berikut ini.

Tabel Exponential Moving Average

Dari data di atas, kita bisa membuat grafik seperti berikut ini.

Exponential Moving Average

Itulah penjelasan mengenai jenis-jenis Moving Average saham. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, selain tiga jenis MA di atas, masih banyak MA lainnya di dunia trading.

Cara Mensetting Moving Average dalam Menganalisa Saham

Jika kita menggunakan Moving Average dalam saham, indikator ini mempunyai dua fungsi utama, yakni analisis trend dan juga peralihan tren harga.

Lalu, seperti apa cara mensetting dan menggunakan MA?

Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

  • Analisis Trend

Pada dasarnya, trader bisa mengenali trend apa yang saat ini sedang terjadi di bursa saham, yakni dengan cara melihat garis MA dan grafik harga. Catatan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.

Analisis Trend

Apabila saat ini harga ada di bawah garis MA, trend sedang bearish atau cenderung mengalami penurunan. Sebaliknya, apabila harga saat ini ada di atas garis MA, itu berarti trend sedang bullish atau harga lebih cenderung naik.

  • Peralihan Trend Harga

Menentukan trend dalam trading merupakan pengetahuan umum yang wajib Anda ketahui apabila ingin mendapatkan keuntungan. Membeli saham ketika harganya sedang turun juga sangat berisiko, apalagi jika Anda tak tahu bagaimana cara menganalisisnya.

Anda baru akan memperoleh keuntungan yang besar apabila bisa menentukan peralihan dari bearish trend ke bullish trend. Anda bisa membeli saham dengan harga yang murah, tetapi juga punya kemungkinan untuk menguat.

Kemudian, bagaimana caranya untuk menentukan kapan suatu harga bisa berakhir dari bearish ke bullish?

Anda bisa mengetahuinya menggunakan dua Moving Average.

Sebagai contoh, Anda bisa menggunakan MA20 serta MA50. Ketika M20 berada memotong ke atas dari garis M50 (golden cross), itu berarti harga saham akan beralih dari bearish trend ke bullish trend.

Sebaliknya, apabila MA20 memotong ke bawah MA50, itu berarti harga kemungkinan besar beralih dari bullish ke bearish. Perhatikan gambar berikut ini.

Peralihan Trend Harga

Satu hal yang perlu diingat oleh Para Trader adalah jangan menggunakan MA secara serampangan. MA pada dasarnya hanya dapat dipakai saat sedang tren, baik naik maupun turun. MA tidak bisa dipakai saat harga naik-turun.

Itulah dasar-dasar tentang Moving Average yang perlu dipelajari oleh para trader. Masih banyak hal tentang MA yang perlu Anda pelajari. Penjelasan di sini hanya sebagai pengantar menuju konsep-konsep yang lebih rumit lagi.

Tinggalkan sebuah Komentar

Copyright © 2020. All Rights Reserved. Seputar.id